Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak k dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain.
Di dalam agama Islam, umat Muslim yang mengetahui atau melihat terjadinya gerhana bulan ataupun matahari, maka selayaknya segera melakukan salat kusuf (salat gerhana). sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana
Studi Terbaru Ungkap Kondisi Bulan yang Menyusut dan 'Gemetar'
Nationalgeographic.co.id – Berdasarkan gambar yang diambil oleh Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA, diketahui bahwa Bulan mengalami penyusutan seiring berjalannya waktu.
Tidak seperti Bumi, Bulan tidak memiliki lempeng tektonik. Karena bagian dalam Bulan telah mendingin selama beberapa ratus juta tahun terakhir, itu membuat permukaannya menjadi keriput saat menyusut.
Para ilmuwan membandingkan proses ini dengan anggur yang menyusut secara bertahap sehingga menimbulkan garis-garis di kulitnya. Namun, tidak seperti kulit anggur, kerak di sekitar Bulan tidak meregang, melainkan langsung rapuh. Membuatnya pecah saat proses penyusutan terjadi.
Hal tersebut pada akhirnya menciptakan tebing-tebing tangga yang disebut sesar dorong–terjadi ketika bagian kerak didorong ke atas dan melewati bagian kerak lainnya.
Saat ini, ada ribuan tebing yang tersebar di permukaan bulan, dengan panjang beberapa mil dan tinggi puluhan meter. Pengorbit bulan sendiri telah mengambil foto 3.500 tebing sejak 2009.
Kondisi Bulan sekarang 50 meter ‘lebih kurus’ akibat proses tersebut. Saat menyusut, Bulan secara aktif memproduksi ‘gempa bulan’ atau moonquakes di sepanjang patahan.
Para peneliti juga menganalisis kembali data seismik yang mereka miliki dari Bulan untuk dibandingkan dengan gambar dari pengorbit.
Data dari seismometer yang ditempatkan di Bulan selama misi 11, 12, 14, 15, dan 16, mengungkapkan bahwa terjadi 28 moonquakes antara 1969 hingga 1977.
Advertisement by
Para peneliti kemudian membandingkan lokasi episentrum untuk gempa-gempa tersebut dengan citra pengorbit. Setidaknya delapan gempa terjadi karena aktivitas di sepanjang patahan. Ini mengesampingkan kemungkinan dampak asteroid atau gemuruh dari interior bulan.
“Sangat menakjubkan melihat bagaimana data dari 50 tahun lalu dan dari pengorbit dapat digabungkan untuk memajukan pemahaman kita tentang Bulan,” papar John Keller, pemimpin penelitian sekaligus ilmuwan Lunar Reconnaissance Orbiter di NASA.
Para ilmuwan yakin gempa masih terjadi di Bulan yang membuatnya berubah secara aktif.
“Analisis kami membuktikan bahwa patahan masih aktif sehingga terus menciptakan gempa saat Bulan mendingin dan menyusut,” kata Thomas Watters, ilmuwan senior dari Center for Earth and Planetary Studies di Smithsonian's National Air and Space Museum.
“Beberapa gempa ini sangat kuat, sekitar 5 skala Richter,” imbuhnya.
Sementara itu, sebagian gempa juga terjadi pada titik terjauh bulan dari Bumi. Menunjukkan bahwa tekanan pasang surut gravitasi Bumi dapat berkontribusi pada tekanan kerak Bulan.
Para peneliti mencatat bukti lain dari foto yang dihasilkan orbiter: yakni tanah longsor dan batu-batu besar di dasar bercak yang terang. Menandakan adanya aktivitas terbaru.
Seiring berjalannya waktu, permukaan bulan menjadi gelap karena pelapukan dan radiasi. Dengan begitu bintik-bintik cerah adalah area di mana terdapat aktivitas baru yang mengekspos wilayah pada permukaan bulan.
“Menurut saya, penemuan ini menekankan bahwa kita perlu kembali ke Bulan. Kami belajar banyak dari misi Apollo, tapi mereka hanya ‘menggaruk’ permukaannya saja. Dengan jaringan seismometer modern yang lebih besar, kita bisa membuat langkah baru mengenai pemahaman kita tentang geologi bulan. Memberikan hal yang sangat menjanjikan untuk sains dan misi masa depan ke bulan," papar Nicholas Schmerr asisten profesor geologi dari University of Maryland yang juga terlibat dalam penelitian
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi Dunia atau WMO memberikan peringatan terbaru soal perubahan iklim. Organisasi global itu menyebut bahwa perubahan iklim tak hanya menyebabkan banjir dan kenaikan permukaan air laut, namun juga gelombang panas.
Sebagaimana dilaporkan Straits Times, hal ini terlihat dari insiden gelombang panas yang terjadi di Amerika barat laut pada bulan Juni dan Juli lalu. Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas mengatakan peristiwa ekstrem ini adalah sebuah norma baru.
"Ada banyak bukti ilmiah bahwa beberapa di antaranya menanggung jejak perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia," ujarnya.
Selain itu, Profesor Taalas juga mengatakan bahwa tingkat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca saat ini telah melampaui target yang ditetapkan Perjanjian Paris, dimana negara dunia sepakat untuk membatasi pemanasan hingga di bawah 2 derajat celcius.
Sebelumnya WMO juga melaporkan tingkat karbon dioksida melonjak menjadi 413,2 bagian per satu juta pada tahun 2020. Ini juga diketahui jauh dari koridor Perjanjian Paris.
"Kita jauh dari jalur. Kita perlu meninjau kembali sistem industri, energi dan transportasi dan seluruh cara hidup kita," ujarnya dilansir pekan lalu.
Sementara itu, para pemimpin dunia saat ini menghadiri konferensi iklim COP26 yang dimulai Minggu (31/10/2021) kemarin di kota Glasgow, Inggris. Forum itu menjadi tonggak agar dunia kembali kepada Perjanjian Paris soal emisi karbon dan kenaikan suhu global.
Sistem Tata Surya: Definisi, Teori, Hingga Sistem Penyusunnya
Gramedia Literasi – Tata Surya merupakan kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi
Matahari,
empat planet bagian dalam,
sabuk asteroid,
empat planet bagian luar, dan
di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar.
Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar. Simak penjelasan lebih lengkapnya mengenai Tata Surya berikut ini, Grameds:
Manusia dianugerahi Tuhan kemampuan untuk berfikir dan berkembang, karenanya cara pandang manusia terhadap sesuatu dapat berubah dari waktu ke waktu. Cara pandang/pemahaman manusia biasanya diejawantahkan dalam suatu teori, yang didukung dengan bukti-bukti ilmiah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak heran jika kemajuan teknologi seringkali menciptakan teori baru, yang bisa jadi mendukung atau meruntuhkan teori sebelumnya.
Begitupun dalam memahami struktur Bumi, cara pandang manusia berubah-ubah seiring perkembangan zaman, dulu para ahli menganggap bahwa daratan dan lautan bersifat statis, bentuk-bentuk benua dan lautan sendiri tidak berubah dari sejak awal pembentukan bumi. Namun kemudian seiring berkembangnya ilmu dan teknologi, muncul teori-teori yang menyatakan bahwa struktur daratan dan lautan yakni bersifat dinamis, pada perkembangannya, teori inilah yang disebut sebagai Teori Tektonik Lempeng.
Teori Tektonik Lempeng mampu merubah cara pandang manusia dalam melihat struktur bumi, potensi kekayaan alam dan kebencanaan. Cara pandang Teori ini juga mampu menjelaskan keberadaan gunung berapi serta daerah-daerah yang rentan gempa. Walaupun relatif baru, namun teori ini hampir sama dahsyatnya dengan teori relativitas yang dikemukakan Einstein. Semakin kita mengetahui Teori Tektonik Lempeng, semakin kita dapat memahami semua potensi, baik kekuatan maupun keindahan dari bumi yang kita diami ini.
Jalan Panjang Penemuan Teori Tektonik Lempeng
Teori Tektonik Lempeng dapatlah dikatakan sebagai “kristalisasi” dari banyak teori yang menyatakan bahwa struktur bumi ini sesungguhnya bersifat dinamis. Perubahan total cara berfikir dan diterimanya konsep ini terjadi dalam tempo yang lama seiring makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebelum digunakannya terminologi “Tektonik Lempeng”, konsep bumi yang dinamis mula-mula di pelopori oleh teori Continental Drift (Pergeseran Benua) yang diperkenalkan oleh meteorologist asal Jerman Lothar Wagener pada Tahun 1915. Teorinya menyatakan bahwa pada periode Kapur (sekitar 200 juta tahun lalu), semua benua dulunya menyatu dalam satu superbenua yang di sebut Pangea, namun kemudian terpecah menjadi kontinen-kontinen yang lebih kecil, lalu berpindah secara mengapung menempati posisinya seperti sekarang ini.
Gambar 1. Ilustrasi Teori Continental Drift. Menurut teori ini Bumi dahulunya hanya satu daratan yang disebut Pangea. (Sumber: britannica)
Untuk mendukung teorinya, Wegener mengemukakan penemuan ilmiahnya sebagai bukti tentang adanya super-kontinen Pangaea tersebut, diantaranya adanya kecocokan/kesamaan Garis Pantai antara Benua Afrika dan Amerika Selatan, kesamaan fosil dan kesamaan batuan, namun begitu Wegener tidak mampu menjelaskan secara mendasar gaya-gaya apa yang bisa menggerakkan benua-benua tersebut saling menjauhi satu sama lainnya. Wegener hanya menerangkan dengan sangat sederhana bahwa pergerakan benua-benua tersebut terjadi di atas dasar samudera. Pendapat ini kemudian banyak dipertanyakan oleh para ahli, Harold Jeffreys salah satunya, seorang ahli geofisika terkenal dari Inggris mengatakan adalah tidak mungkin sebuah massa yang sangat besar tidak terpecah ketika bergerak di lantai samudera. Demikianlah pertanyaan tersebut masih menjadi misteri yang belum bisa terpecahkan sehingga tidaklah mengejutkan, bahwa Teori Continental Drift tidak diterima dengan baik pada masa itu.
Setelah meninggalnya Wegener, Teori Continental Drift secara berangsur hampir dilupakan karena dianggap tidak biasa, absurd, dan tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, banyaknya bukti baru yang timbul di awal tahun 1950-an membangkitkan kembali perdebatan tentang teori dari Wegener itu, terutama setelah adanya perkembangan teknologi eksplorasi pemetaan bawah laut pada periode tahun 1950-an (Gambar 2).
Pemetaan bawah laut yang banyak dilakukan dari 1900 hingga 1950-an menghasilkan beberapa penemuan baru, salah satunya yaitu ditemukannya rangkaian pegunungan besar di dasar samudera yang mengelilingi bumi, yang kemudian dinamai dengan istilah “Bubungan Tengah Samudera” (Mid-Ocean Ridge). Penemuan lainya yaitu adanya medan magnet purba yang terekam pada batuan dasar samudera (Paleomagmatisme).
Gambar 2. Kapal-kapal yang digunakan untuk eksplorasi laut hingga Tahun 1950-an. Data-data yang diperoleh diantaranya morfologi permukaan laut, medan magnet batuan, endapan sedimen & ketebalan kerak samudera. (Sumber: Jason Morgan, 2018)
Penemuan-penemuan ini kemudian memicu ditemukannya teori baru yang disebut Teori Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading). Teori ini dikemukakan pada Tahun 1962 oleh Harry H. Hess, seorang geologis dari Princeton University dan Robert S Dietz dari Survey Pantai dan Geodesi Amerika.
Gambar 3. Ilustrasi Global Mid Ocen Ridge (Bubungan Tengah Samudera). (Sumber: USGS)
Hess berpendapat bahwa kerak samudera merupakan proses daur ulang. Pertama-tama kerak samudera yang baru terbentuk di sepanjang bubungan (Mid Oceanic Ridge) lalu bergerak menjauhi bubungan, kemudian secara perlahan masuk dibawah kerak benua dan mengalami penggerusan.
Gambar 4. Prof. Dr. Harry Hess. Seorang Geologis USA Penemu Teori Sea Floor Spreading (Sumber: gettyimages.com)
Tidak seperti Wegener, dalam menguraikan penyebab utama pergerakan kerak, Hess menggunakan Teori Arus Konveksi yang sebelumnya dikemukakan oleh Vening Meinesz pada Tahun 1930. Teori ini menjelaskan bahwa perpecahan benua dan pergerakan lempeng disebabkan oleh adanya perpindahan energi panas yang terjadi dalam lapisan astenosfer bumi. Energi itu sendiri disebabkan oleh adanya peluruhan unsur-unsur radioaktif dalam inti bumi.
Gambar 5. Hipotessa Hess tentang daur ulang kerak samudera & arus konveksi dalam tulisannya yang berjudul History of Ocean Basin (Hess, 1962)
Penemuan Hess ini banyak menginspirasi para Ilmuan, salah satunya adalah Seorang Ahli geofisika Kanada bernama J. Tuzo Wilson. Wilson mengenal Harry Hess pada akhir tahun 1930-an ketika belajar untuk meraih gelar doktornya di Universitas Princeton USA. Pemikiran dan teorinya juga banyak dipengaruhi oleh ide-ide menarik Harry Hess.
Pada tahun 1965, Wilson banyak mengembangkan konsep yang penting bagi teori lempeng-tektonik. Beberapa kontribusi Wilson diantaranya yaitu penemuannya tentang Teori Hotspot dan Teori Pergerakan Transform. Wilson juga yang pertama-tama menggunakan istilah lempeng dalam menjelaskan teori-teori nya.
Argumen-argumen yang menguatkan teori pergerakan lempeng hingga akhir tahun 60-an semakin banyak, para ilmuan dari masing-masing kualifikasi/bidang keahlian turut menyumbangkan pendapat-pendapatnya, sehingga konsep Teori Tektonik Lempeng semakin dikenal dunia.
Gambar 6. Para Pioner Teori Tektonik Lempeng (Sumber: geolsoc.org.uk)
Ilmuan dunia yang turut memperkuat Teori Tektonik Lempeng salah satunya Dan Mc Kenzie, seorang geofisikawan asal Inggris. Tulisan-tulisanya dari Tahun 1960 s.d 1970 secara detail mengungkapkan sistem kerja pergerakan lempeng dari aspek kinematik, dia juga banyak menjelaskan mengenai struktur Bumi, khususnya viskositas mantel. Selain itu Dan Mc Kenzie termasuk yang mula-mula meluaskan terminologi “Lempeng” dalam setiap tulisannya. Dalam tulisannya Tahun 1969 yang berjudul Speculations on the Consequences and Causes of Plate Motions (Gambar 7), Mc Kenzie berpendapat bahwa oleh karena batas zona seismik (kegempaan) secara umum tidak sama dengan batas benua maka istilah Continental Drift (pergeseran benua) kurang tepat bila diaplikasikan, sebagai gantinya digunakan istilah “Plate” (Lempeng).
Gambar 7. Penggunaan Terminologi “Plate” (Lempeng) yang digunakan Mc Kenzie
dalam menjelaskan hipotesa-hipotesanya (Kenzie, 1969)
Prinsip Utama Teori Tektonik Lempeng
Prinsip utama dari Teori Tektonik Lempeng adalah bahwa Bumi ini tersusun oleh lempeng-lempeng yang bergerak. Suatu lempeng dapat berupa kerak samudera, kerak benua, atau gabungan dari kedua kerak tersebut. Adanya pergerakan lempeng ini disebabkan oleh adanya arus konveksi, yaitu berupa perpindahan energi panas yang terjadi di lapisan astenosfer.
Karena semua lempeng-lempeng tersebut bergerak, maka terjadilah interaksi antara satu lempeng dengan lempeng lainnya, interaksi tersebut berpusat di sepanjang batas dari lempeng-lempeng itu. Ada yang berbenturan, ada yang saling menjauh dan ada yang bergeser (Gambar 8). Setiap interaksi antar lempeng itulah yang kemudian menimbulkan dinamika di Bumi ini, baik perubahan morfologi, aktivitas vulkanisme, gempa bumi, tsunami dan sebagainya.
Gambar 8. Tipe Interaksi Antar Lempeng. Convergent (Gerak lempeng saling mendekat), Divergent (Gerak lempeng saling menjauh), Transform (Gerak lempeng bergesekan secara horizontal). (Sumber: Duarte, 2016)
Menurut Teori ini, terdapat 13 lempeng besar dan kecil yang membentuk Bumi ini yaitu:
Lempeng Besar
Lempeng Kecil
Lempeng Pasific (Pasific plate),
Lempeng Euroasia (Eurasian plate),
Lempeng India-Australia (Indian-Australian plate)
Lempeng Afrika (African plate)
Lempeng Amerika Utara (North American plate)
Lempeng Amerika Selatan (South American plate)
Lempeng Antartika (Antartic plate)
Lempeng Nasca (Nasca plate)
Lempeng Arab (Arabian plate)
Lempeng Karibia (Caribian plate)
Lempeng Philippines (Phillippines plate)
Lempeng Scotia (Scotia plate)
Lempeng Cocos (Cocos plate)
Gambar 9. Peta Lempeng Dunia (Sumber: USGS)
Menjadi Teori Dasar Dalam Menentukan Potensi Kekayaan Alam dan Bencana
Walupun baru, namun Teori Tektonik Lempeng merupakan salah satu penemuan yang amat penting pada abad ini. Dengan lahirnya teori ini, para ilmuan telah mampu menafsirkan proses-proses geologi dan perkembangan bumi secara holistic, salah satunya karena teori ini mampu menghubungkan cabang-cabang ilmu kebumian tanpa menimbulkan kontradiksi satu sama lainnya.
Penerapan Teori Tektonik Lempeng yang salah satunya diaplikasikan melalui model-modelektonik lempeng, walaupun sederhana, tetapi telah mampu memecahkan banyak masalah geologi yang semula sulit dipecahkan, salah satunya yaitu dalam bidang eksplorasi dan bencana alam. Model Tektonik lempeng mampu mengidentifikasi kemungkinan keterdapatan bahan galian pada suatu tempat. Indonesia contohnya, Endapan emas di Indonesia banyak berasosiasi dengan model tektonik tipe konvergen (Magmatic Arc), sedangkan timah, khusunya daerah gugusan kepulauan Riau hingga Bangka Belitung dan sekitarnya banyak berasosiasi dengan zona Kolisi Lempeng Benua (Continental Collision).
Gambar 10. Penampang Tektonik lempeng sebagai dasar teori
dalam eksplorasi bahan galian.
Dalam bidang kebencanaan, model Tektonik Lempeng juga mampu mempredeksi potensi terjadinya bencana geologi secara regional, sehingga dapat dilakukan usaha untuk mengurangi akibat dari bencana tersebut atau disebut dengan mitigasi bencana. Teori Tektonik Lempeng salah satunya melahirkan istilah “Ring Of Fire” atau Negara yang dilalui oleh pertemuan dua lempeng yang saling bertubrukan sehingga berpotensi terjadinya letusan gunung api dan gempa bumi (Gambar 11). Daerah-daerah di Indonesia yang dilalui jalur ini diantaranya Sisi Barat Pulau Sumatra, dan Sisi Selatan Pulau Jawa. Pemerintah Indonesia pun sampai saat ini masih menjadikan teori Tektonik Lempeng sebagai panduan utama dalam menentukan perencanaan dan arah kebijakan mitigasi bencana. Dengan demikian jelaslah bahwa dengan lahirnya teori ini, kita patut bersyukur mampu menentukan lokasi-lokasi yang rawan akan bencana.
Gambar 11. Ilustrasi Ring Of Fire (Sumber: USGS)
Teori Tektonik Lempeng memang semakin berkembang dan mendapat perhatian yang luas di antara para ahli kebumian, teori ini benar-benar telah memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam bidang keilmuan, lebih jauh terhadap perkembangan peradaban manusia, salah satunya negara kita Indonesia. Para ahli kebumian kitapun juga akhirnya mengetahui bahwa Gugusan Kepulaun Indonesia sendiri terbentuk oleh proses-proses pergerakan lempeng, dengan kata lain, melalui pemahaman yang baik akan teori ini, kita dapat memprediksi potensi sumber daya mineral dan kebencanaan di Indonesia yang pada akhirnya bertujuan untuk kesejahteraan bangsa
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Hidrosfer adalah lapisan air yang ada di permukaan bumi. Pembentukan hidrosfer berasal dari berbagai sumber air yang ada di bumi.[1] Kata hidrosfer berasal dari kata bahasa Inggris hydrosphere;hydro berarti air dan sphere berarti bulatan atau lingkup. Jadi, hidrosfer merupakan lapisan air yang menyelimuti bumi Hidrosfer di permukaan bumi meliputi danau, sungai, laut, osean, salju atau gletser, air tanah dan uap air yang terdapat di lapisan udara.
Siklus hidrologi adalah suatu proses peredaran atau daur ulangair secara berurutan dan terjadi terus-menerus. Pemanasan sinar matahari menjadi pengaruh pada siklus hidrologi. Air di seluruh permukaan bumi akan menguap bila terkena sinar matahari. Pada ketinggian tertentu ketika temperatur semakin turun uap air akan mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air dan jatuh sebagai hujan.
Siklus hidrologi dibedakan menjadi tiga, yaitu siklus pendek, siklus sedang dan siklus panjang.
Pada siklus pendek,air laut yang terkena panas matahari menguap menjadi gas sehingga mengalami kondensasi sebelum sampai ke daratan dan membentuk awan,sehingga terjadi hujan di permukaan laut
Pada siklus sedang, uap air yang berasal dari lautan ditiup oleh angin menuju ke daratan. Di daratan uap air membentuk awan yang akhirnya jatuh sebagai hujan di atas daratan. Air hujan tersebut akan mengalir melalui sungai-sungai, selokan dan sebagainya hingga kembali lagi ke laut...
Pada siklus panjang, uap air yang berasal dari lautan ditiup oleh angin ke atas daratan. Adanya pendinginan yang mencapai titik beku pada ketinggian tertentu, membuat terbentuknya awan yang mengandung kristales. Awan tersebut menurunkan hujan es atau salju di pegunungan. Di permukaan bumi es mengalir dalam bentuk gletser, masuk ke sungai dan selanjutnya kembali ke lautan.
Hidrosfer di muka bumi selanjutnya akan dikelompokkan menjadi dua, yaitu perairan darat dan perairan laut.
Proses Terjadinya Siklus Hidrologi
Untuk membentuk suatu siklus hidrologi tersebut terdapat beberapa proses yang terjadi di dalamnya antara lain evaporasi, transpirasi, sublimasi, intersepsi, kondensi, adveksi, presipitasi, run off, dan infliltrasi.
Evaporasi , adalah proses penguapan air dari tubuh-tubuh air, seperti laut, danau, dan sungai akibat pemanasan sinar matahari. Air yang menguap karena panas matahari tersebut akan naik dan nantinya menjadi awan. Pada dasarnya, semakin tinggi suhu matahari terutama pada musim kemarau maka semakin banyak juga air yang menjadi uap.
Traspirasi , adalah proses penguapan air dari tanaman melalui stomata atau mulut daun.
Sublimasi, adalah proses penguapan yang terjadi pada es tanpa melalui proses pencairan.
Intersepsi, adalah proses tertahannya air hujan pada tanaman untuk kemudian terevaporasi kembali ke atmosfer.
Kondensasi,
Kondensasi, proses siklus hidrologi yang satu ini menampakkan perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air di atmosfer, sehingga terbentuklah awan. Proses ini terjadi karena pengaruh rendahnya suhu udara di ketinggian atmosfer tertentu.
Adveksi, adalah proses pergerakan butiran air (dalam bentuk awan) secara horizontal dari satu tempat ke tempat lain. Proses ini terjadi karena pengaruh angin.
Presipitasi, adalah proses turunnya air ke permukaan bumi dalam bentuk hujan. Jika presipitasi terjadi di daerah yang bersuhu rendah, maka presipitasi akan menghasilkan hujan salju.
Run off, adalah pergerakan air hujan dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah yang terjadi di permukaan bumi.
infiltrasi, adalah proses peresapan air ke dalam tanah melalui pori-pori tanah. Akibat proses ini, air hujan dapat tersimpan menjadi air tanah. Air tanah ini secara lambat akan mengalir kembali ke laut.
Perairan di daratan tergolong sebagai perairan tawar, yaitu semua perairan yang melintasi daratan. Air di daratan meliputi air tanah dan air permukaan.
Air tanah adalah air yang terdapat di dalam tanah. Air tanah berasal dari salju, hujan atau bentuk curahan lain yang meresap ke dalam tanah dan tertampung pada lapisan kedap air.
Air freatis adalah air tanah yang terletak di atas lapisan kedap air tidak jauh dari permukaan tanah.
Air freatis sangat dipengaruhi oleh resapan air di sekelilingnya. Pada musim kemarau jumlah air freatis berkurang. Sebaliknya pada musim hujan jumlah air freatis akan bertambah. Air freatis dapat diambil melalui sumur atau mata air.
Air artesis adalah air tanah yang terletak jauh di dalam tanah, di antara dua lapisan kedap air.
Lapisan di antara dua lapisan kedap air tersebut disebut lapisan akuifer. Lapisan tersebut banyak menampung air. Jika lapisan kedap air retak, secara alami air akan keluar ke permukaan. Air yang memancar ke permukaan disebut mata air artesis. Air artesis dapat diperoleh melalui pengeboran. Sumur pengeborannya disebut sumur artesis...
Sungai adalah air hujan atau mata air yang mengalir secara alami melalui suatu lembah atau di antara dua tepian dengan batas jelas, menuju tempat lebih rendah (laut, danau atau sungai lain). Sungai merupakan tempat mengalirnya air secara gravitasi menuju ke tempat yang lebih rendah, Sungai juga merupakan salah satu wadah tempat berkumpulnya air dari suatu kawasan. Apabila aktivitas manusia yang berada di sekitar aliran sungai tidak diimbangi dengan kesadaran melestarikan lingkungan sungai, maka kualitas air sungai akan buruk. Tetapi jika sebaliknya aktivitas manusia diimbangi oleh kesadaran menjaga lingkungan sungai, maka kualitas air sungai akan relatif baik.[2]
Danau merupakan salah satu bentuk ekosistem yang menempati suatu wilayah yang relatif kecil pada permukaan bumi. Wilayah yang ditempati suatu danau lebih kecil dibandingkan dengan laut dan daratan. Danau memberikan dampak yang positif bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran wilayah danau.[3]Danau adalah tubuh air dalam jumlah besar yang menempati basin di wilayah daratan. Suatu genangan dapat disebut danau jika memiliki tiga kriteria sebagai berikut.
Mempunyai permukaan air yang cukup luas untuk mampu menimbulkan gelombang.
Air cukup dalam sehingga terdapat strata suhu pada kedalaman air.
Vegetasi yang mengapung tidak cukup untuk menutupi seluruh permukaan danau.
Danau glasial adalah danau yang terjadi karena akibat adanya erosi dan pengendapan yang diakibatkan aktivitas gletser di lereng-lereng bukit atau pegunungan.
Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk karena aktivitas vulkanik. Kaldera yang terbentuk tergenang oleh air hujan sehingga terbentuklah danau.
Danau tektonik adalah danau yang terbentuk karena pergeseran lempeng tektonik. Pergerakan lempeng tektonik akan membentuk lembah yang kemudian terisi oleh air hujan.
Danau tekto-vulkanik adalah danau yang terbentuk karena adanya aktivitas tektonik yang memacu kegiatan vulkanik sehingga patahan dan gunung berapi. Bekas gunung tersebut akan membentuk basin yang terisi air hujan.
Danau karst adalah danau yang terbentuk karena pelarutan kapur oleh air yang membentuk basin.
Danau aliran adalah danau yang terbentuk karena pemotongan muara sungai akibat sedimentasi.
Danau laguna adalah danau yang terbentuk karena kombinasi kerja antara angin dan ombak yang menyebabkan terjadinya tanggul pasir di sepanjang pantai dan membentuk sebuah laguna.
Danau buatan (waduk) adalah danau yang terbentuk karena pembendungan air sungai oleh manusia.